Obstructive Sleep Apnea

Obstructive Sleep Apnea


Definisi


Obstructive sleep apnea merupakan suatu gangguan tidur serius yang terjadi, dimana pernafasan seseorang berulang kali terhenti akibat adanya sumbatan pada jalan nafas yang berulang kali terjadi saat tidur.

PENYEBAB

Obstructive sleep apnea (OSA) disebabkan oleh tertutupnya tenggorokan atau jalan nafas bagian atas secara berulang pada saat tidur, sehingga pernafasan terhenti selama lebih dari 10 detik secara berulang. Seseorang dengan OSA bisa mengalami 5-30 kali atau lebih episode henti nafas untuk setiap jamnya.

OSA terjadi jika otot-otot pada bagian belakang tenggorokan mengalami relaksasi saat tidur. Otot-otot ini menunjang langit-langit lunak mulut bagian belakang (palatum mole), uvula, tonsil, dinding tenggorokan bagian samping, dan juga lidah. Karena terjadi relaksasi pada otot-otot ini, maka jalan nafas menjadi menyempit atau menutup saat seseorang menarik nafas. Akibatnya, pernafasan menjadi tidak adekuat dan menyebabkan penurunan kadar oksigen di dalam darah. Kondisi ini diketahui oleh otak, dan dalam sekejap akan membuat seseorang terbangun, sehingga jalan nafas bisa terbuka kembali. Seseorang biasanya hanya terbangun sangat singkat, sehingga tidak mengingatnya. 

Illustration showing how narrowed airway contributes to snoring

Sumber : http://www.mayoclinic.com

Beberapa faktor yang berisiko menyebabkan atau memperburuk sleep apnea :

  • Kegemukan. OSA lebih sering terjadi pada orang-orang yang gemuk. Kegemukan, mungkin juga dikombinasi dengan penuaan dan faktor lainnya, menyebabkan jalan nafas menjadi lebih sempit.
  • Penggunaan penenang atau alkohol yang berlebih, bisa memperberat terjadinya OSA.
  • Memiliki tenggorokan yang sempit, leher yang besar, dan kepala yang bulat meningkatkan risiko terjadinya sleep apnea
  • Hipotiroidisme atau hormon pertumbuhan yang berlebih (akromegali), bisa berkontribusi untuk terjadinya OSA
  • Stroke
  • Tonsil atau adenoid yang besar pada anak-anak
  • Kelainan bawaan tertentu, misalnya rahang bawah yang berukuran kecil



Gejala


Orang-orang dengan OSA mungkin tidak menyadari bahwa dirinya mengalami gangguan dalam tidur. Gejala saat tidur biasanya pertama kali diketahui oleh orang lain yang tidur satu kamar dengannya. Pernafasan saat tidur menjadi pelan dan dangkal, atau bisa tiba-tiba berhenti (terkadang sampai 1 menit), kemudian berlanjut kembali.

Pada OSA, gejala yang paling sering terjadi adalah mendengkur, karena adanya penyempitan pada jalan nafas, sehingga udara bergetar saat melaluinya. Tetapi sebagian besar orang yang mendengkur tidak memiliki sleep apnea. Pada OSA, dengkuran cenderung mengganggu, disertai dengan adanya henti nafas, seperti tercekik, dan tiba-tiba terbangun dengan mendengus dan bernafas kembali. Pada pagi hari, orang-orang dengan OSA seringkali tidak menyadari bahwa dirinya telah berulang kali terbangun saat tidur.

Gejala pada malam hari :

  • Mendengkur dengan bunyi keras dan mengganggu
  • Napas berhenti di sela-sela mendengkur dan diakhiri dengan mendengus
  • Rasa sesak dan tecekik yang membuat penderita terbangun
  • Tidur tidak nyenyak karena sering terbangun dan berubah posisi

Pada OSA yang berat, akan timbul dengkuran keras dan dengusan berulang saat tidur di malam hari, dan akan timbul rasa ngantuk atau bahkan sering tertidur pada siang hari.

Gejala pada siang hari:

  • Bangun dengan perasaan tidak segar
  • Sakit kepala di pagi hari
  • Mulut terasa kering atau sakit tenggorokan pada saat bangun tidur
  • Mengantuk yang berlebihan di siang hari (Excessive Daytime Sleepiness)
  • Kelelahan berkepanjangan
  • Perubahan mood
  • Gangguan kosentrasi dan daya ingat

Beat Sleepiness at Work

Sumber : http://andycore.com

Pada orang yang tinggal sendiri, gejala yang paling dirasakan adalah adanya rasa mengantuk di siang hari. Pada akhirnya, rasa mengantuk yang dirasakan akan mengganggu pekerjaan dan mengurangi kualitas hidup penderita. Misalnya, penderita bisa tertidur saat menonton televisi, saat menghadiri rapat, atau bahkan saat berhenti di lampu merah ketika mengemudi.

Selain itu, OSA juga bisa menimbulkan berbagai gangguan, seperti :

  • Penurunan hasrat seksual
  • Gangguan dalam hubungan dengan orang lain, karena penderita tidak mampu berpartisipasi aktif dalam berhubungan dengan orang lain akibat mengantuk. Selain itu, penderita juga cenderung menjadi mudah marah.
  • Risiko terjadinya berbagai masalah kesehatan, seperti stroke, serangan jantung, gangguan irama jantung, tekanan darah tinggi, dan depresi.
  • Meningkatnya risiko kematian di usia muda, pada pria setengah baya yang sering mengalami OSA lebih dari 30 kali setiap jam
  • Gangguan perilaku dan gangguan dalam belajar, merupakan gejala yang seringkali ditemukan pada anak-anak.
  • Hambatan pertumbuhan pada anak dengan OSA.

Orang-orang yang sangat gemuk berisiko mengalami OSA. Lemak tubuh yang berlebihan menyebabkan gangguan dalam pergerakan dinding dada, dan lemak di bawah diafragma yang berlebihan bisa menekan paru-paru, sehingga menyebabkan nafas menjadi dangkal. Lemak tubuh yang berlebihan di sekitar tenggorokan bisa menekan jalan nafas bagian atas dan menghambat aliran udara.



Diagnosa


Dugaan adanya sleep apnea didasarkan dari gejala-gejala yang ada. Diagnosa biasanya dipastikan dengan melakukan pemeriksaan yang disebut polysomnography. Pada pemeriksaan ini, dipasang berbagai alat untk memonitor keadaan saat tidur, yaitu :

  • EEG (electroencephalography) digunakan untuk memonitor perubahan aktivitas otak saat tidur
  • Oksimetri, untuk memantau kadar oksigen di dalam darah
  • Sebuah alat yang melingkupi hidung dan mulut untuk memantau aliran nafas
  • Alat yang ditempel di dada untuk memantau pola pernafasan dan gerakan dinding dada
  • Alat untuk memantau gerakan mata saat tidur

Orang-orang dengan sleep apnea juga bisa diperiksa akan adanya komplikasi yang mungkin terjadi, misalnya gagal jantung, tekanan darah tinggi, dan gangguan irama jantung.

Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan untuk membantu mendiagnosa OSA :

  1. Indeks Masa Tubuh:
    < 30, 65 % OSA
    > 30, 25 % - 30 % OSA
  2. Pemeriksaan Fisik : Hidung, lidah, dan lain-lain
  3. Skala Tidur Epworth (ESS), < 10 cenderung OSA
  4. Nasolaringkospi
  5. Sleep Endoscopy, dengan cara pembiusan dengan pemberian obat tidur
  6. Cephalometric : pemeriksaan tulang
  7. Sleep test


Pengobatan


Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk membantu mengatasi OSA, yaitu :

  • Menurunkan berat badan
  • Tidak mengkonsumsi alkohol, obat tidur, atau obat yang menimbulkan rasa mengantuk
  • Mengubah posisi tidur untuk memperbaiki pernafasan. Penderita sebaiknya tidak tidur terlentang, tetapi miring untuk mengurangi dengkuran.
  • Berhenti merokok. Merokok bisa meningkatkan pembengkakan pada jalan nafas bagian atas, sehingga bisa memperberat dengkuran dan juga henti nafas saat tidur.
  • Mengobati alergi dan infeksi hidung
  • Mengatasi hipotiroidisme dan pertumbuhan yang berlebih (akromegali)

Penanganan yang dapat dilakukan untuk orang-orang dengan OSA, terutama mereka yang merasa mengantuk sepanjang hari :

  • CPAP (Continuous Positive Airway Pressure). Dengan CPAP, penderita tidur dengan menggunakan masker yang melingkupi hidung. Masker ini tersambung dengan sebuah mesin kecil yang memberikan udara bertekanan ke jalan nafas sehingga menjaga jalan nafas tetap terbuka.

Continuous Positive Airway Pressure

Sumber : http://www.mayoclinic.com

  • Memasang oral/dental appliance, untuk membantu mengatasi dengkuran dan OSA. Alat ini membantu menjaga jalan nafas tetap terbuka dan hanya dipakai saat tidur. Sebagian besar alat berfungsi untuk memisahkan rahang atas dan bawah, serta mendorong rahang bawah ke depan sehingga lidah tidak dapat jatuh ke belakang dan menyumbat tenggorokan.
  • Pembedahan, dilakukan jika terdapat pembesaran tonsil atau sumbatan pada jalan nafas bagian atas oleh struktur lainnya. Pembedahan juga terkadang dilakukan untuk orang-orang tanpa sumbatan yang jelas, jika pengobatan lainnya tidak berhasil. Tindakan yang paling sering dilakukan adalah uvulopalatopharyngoplasty, dimana jaringan di sekitar jalan nafas (misalnya tonsil dan adenoid) diangkat.

Penggunaan CPAP, merupakan salah satu terapi non bedah yang sangat efektif, sehingga dianjurkan oleh dokter, walaupun penggunaannya sedikit merepotkan, namun tingkat keberhasilan dan minimnya efek sampingnya dapat diandalkan mengatasi mendengkur dan OSA, hingga penyebab OSA diatasi.

CPAP model terbaru secara otomatis dapat menyesuaikan pola napas alami sesuai kebutuhan si pemakai, dan dikemas dengan bentuk yang lebih kecil dan ringan serta lebih mudah dan nyaman digunakan.

Dengan penanganan yang baik, selain kualitas hidup bisa diperbaiki, terjadinya komplikasi serius juga dapat dicegah.

PENCEGAHAN

 



Referensi


- C, Louis R. Sleep Apnea. Web MD. 2012. http://www.webmd.com/sleep-disorders/

sleep-apnea/sleep-apnea

- Mayo Clinic. Sleep Apnea. 2012. http://www.mayoclinic.com/health/sleep-apnea/DS00148

- S, Kingman P. Obstructive Sleep Apnea. Merck Manual Home Health Handbook. 2013.

http://www.merckmanuals.com/home/lung_and_airway_disorders/sleep_apnea/

sleep_apnea.html

Obstructive Sleep Apnea Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hari Media Sosial

0 comments:

Post a Comment