Imunodefisiensi & Gangguan Limpa

Imunodefisiensi & Gangguan Limpa


Definisi


Limpa merupakan suatu organ yang berukuran sebesar genggaman tangan dan terletak di bagian kiri atas perut, tepat dibawah tulang iga.  

Limpa terdiri dari dua jenis jaringan yang masing-masing memiliki fungsi berbeda, yaitu bagian putih dan bagian merah limpa. Bagian putih limpa (white pulp) merupakan bagian sistem imun yang berfungsi untuk melawan infeksi. Bagian ini menghasilkan sel-sel darah putih (limfosit) yang kemudian membentuk antibodi. Bagian merah limpa (red pulp) berfungsi untuk menyaring darah dan membuang material yang tidak diinginkan. Bagian merah limpa ini terdiri dari sel-sel darah putih yang disebut fagosit. Sel-sel ini memakan mikroorganisme seperti bakteri, jamur, dan virus. Bagian ini juga memonitor sel-sel darah merah dengan menghancurkan sel-sel darah merah yang abnormal, terlalu tua, atau rusak sehingga tidak berfungsi dengan baik. Selain itu, bagian merah limpa juga merupakan tempat penyimpanan sel-sel darah putih dan trombosit.

Spleen Cross Section

Sumber : http://www.acm.uiuc.edu

PENYEBAB

Berbagai penyebab kelainan pada limpa :

  1. Infeksi 
    - Hepatitis 
    - Mononukleosis infeksiosa 
    - Psitakosis 
    - Endokarditis bakterialis subakut 
    - Bruselosis 
    - Kala-azar 
    - Malaria 
    - Sifilis 
    - Tuberkulosis 
  2. Anemia 
    - Elliptositosis herediter 
    - Sferositosis herediter 
    - Penyakit sel sabit (terutama pada anak-anak) 
    - Thalassemia 
  3. Kanker darah dan penyakit proliferatif 
    - Penyakit Hodgkin dan limfoma lainnya 
    - Leukemia 
    - Mielofibrosis 
    - Polisitemia vera
  4. Penyakit peradangan 
    - Amiloidosis 
    - Sindroma Felty 
    - Sarkoidosis 
    - Lupus eritematosus sistemik 
  5. Penyakit hati 
    - Sirosis 
  6. Penyakit penimbunan 
    - Penyakit Gaucher 
    - Penyakit Hand-Sch?ller-Christian 
    - Penyakit Lettere-Siwe 
    - Penyakit Niemann-Pick 
  7. Penyebab lain 
    - Kisata dalam limpa 
    - Penekanan terhadap vena dari limpa atau vena yang menuju ke hati 
    - Bekuan darah dalam vena dari limpa atau vena yang menuju ke hati
  8. Trauma 



Gejala


Limpa memiliki peran penting dalam fungsi sistem kekebalan tubuh. Pada orang dengan gangguan atau tidak memiliki limpa, misalnya karena kelainan bawaan, rusak, atau diangkat karena penyakit, resiko terjadinya infeksi berat akan meningkat. 

Jika limpa diangkat, tubuh akan kehilangan beberapa kemampuannya untuk menghasilkan antibodi pelindung dan untuk membuang bakteri yang tidak diinginkan dari tubuh. Sebagai akibatnya, kemampuan tubuh dalam melawan infeksi akan berkurang. Tidak lama kemudian, organ lainnya (terutama hati) akan meningkatkan fungsinya dalam melawan infeksi untuk menggantikan kehilangan tersebut, sehingga meningkatnya risiko untuk terjadinya infeksi tidak akan berlangsung lama. 

Jika limpa membesar (splenomegali), kemampuannya untuk menangkap dan menyimpan sel-sel darah akan meningkat. Splenomegali dapat menyebabkan berkurangnya jumlah sel darah merah, sel darah putih dan trombosit dalam sirkulasi.

Limpa terletak di dekat lambung, dengan demikian limpa yang membesar dapat memberi penekanan pada lambung, sehingga penderita bisa merasakan perutnya penuh meskipun baru makan sedikit makanan kecil atau bahkan belum makan apa-apa. Penderita juga bisa merasakan nyeri perut atau nyeri punggung di daerah limpa, yang bisa menjalar ke bahu, terutama jika ada bagian limpa yang tidak mendapatkan cukup darah dan mulai mati.



Diagnosa


Pemeriksaan limpa dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu:

  • Pemeriksaan fisik. Biasanya pada pemeriksaan fisik, seorang dokter dapat merasakan apakah ada pembesaran limpa atau tidak. 
  • Pemeriksaan radiologi, seperti CT scan, ultrasonografi, dan MRI, dapat dilakukan untuk menentukan besarnya limpa dan melihat apakah ada penekanan terhadap organ di sekitarnya. Pemeriksaan MRI juga dapat memberikan hasil yang sama dengan CT scan dan bisa melihat aliran darah yang melalui limpa.
  • Pemeriksaan lainnya menggunakan partikel radioaktif yang ringan untuk mengukur besar limpa dan fungsinya serta untuk menentukan apakah terdapat penumpukan atau penghancuran sel darah dalam jumlah besar. 
  • Jika terdapat pembesaran limpa, dapat dilakukan pemeriksaan darah dan sumsum tulang. Pemeriksaan darah dilakukan untuk melihat jumlah sel darah merah, sel darah putih dan trombosit. Pada pemeriksaan dibawah mikroskop, bentuk dan ukuran sel darah bisa memberikan petunjuk mengenai penyebab membesarnya limpa. Pengukuran protein darah bisa membantu menyingkirkan beberapa keadaan, seperti multipel mieloma, amiloidosis, malaria, kala-azar, bruselosis, tuberkulosis dan sarkoidosis. Pemeriksaan sumsum tulang dapat digunakan untuk melihat apakah terdapat kanker sel darah (misalnya leukemia atau limfoma) atau penumpukan bahan-bahan yang tidak diinginkan yang menyebabkan gangguan pada limpa. 


Pengobatan


Terkadang limpa harus diangkat jika terjadi kerusakan berat, misalnya akibat trauma. Seseorang yang tidak memiliki limpa berisiko tinggi untuk terkena infeksi. Oleh karena itu, vaksinasi perlu diberikan untuk membantu mencegah terjadinya infeksi tertentu, misalnya vaksin influenza yang diberikan setiap tahun.

Pada penderita yang juga memiliki gangguan lain, misalnya kanker atau penyakit sel sabit, yang meningkatkan risiko untuk terjadinya infeksi berat, dapat diberikan antibiotika sebagai pencegahan.

Namun demikian, seseorang tetap dapat bertahan hidup tanpa limpa. Organ-organ lain, terutama hati, akan mengkompensasi fungsi limpa yang hilang dengan meningkatkan kemampuannya dalam melawan infeksi dan membuang sel-sel darah yang rusak, tua, atau abnormal.



Referensi


- Harry S Jacob. Overview of The Spleen. 2012.

http://www.merckmanuals.com/home/blood_disorders/spleen_disorders/overview_of_the_spleen.html

- Harry S Jacob. Enlarged Spleen. 2012.

http://www.merckmanuals.com/home/blood_disorders/spleen_disorders/enlarged_spleen.html

- Digestive Disorder. 2010. http://www.webmd.com/digestive-disorders/picture-of-the-spleen

Imunodefisiensi & Gangguan Limpa Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hari Media Sosial

0 comments:

Post a Comment